1. Kasus Artis Indonesia
Sandra Dewi kembali
melakukan preskon untuk meng-klarifikasi foto-foto bugilnya yang merupakan
hasil rekayasa orang yang tak bertanggung jawab. Dalam kesempatan tersebut,
Sandra didampingi oleh seorang pengamat telematika Roy Suryo dan perwakilan
dari Multivision.
Dalam pandangan Roy,
foto-foto Sandra jelas dan nyata hasil rekayasa semata. “Foto ini jelas
merugikan Sandra Dewi secara mental maupun psikis. Untuk gambar kepala,
master-nya diambil dari sebuah situs ternama. Dan kejahatan semacam ini memang
ada belum ada undang-undangnya,” jelas Roy di Belezza Permata Hijau.
Lebih lanjut, kata Roy,
dirinya sebagai pengamat telematika dan bukan pakar telematika seperti selama
ini banyak disebut media, selalu berusaha memberikan jawaban setiap ada
pertanyaan.
“Dan baru kali ini ada
seorang artis secara tulus menelepon saya. Dalam kasus seperti ini ada tiga
jenis motif. Pertama karena korban murni, kedua karena dijebak dan ketiga
dengan sengaja orang tersebut menyebarkan untuk sebuah popularitas,” papar Roy.
“Dan kasus Sandra Dewi
ini yang pertama. Jelas gambar ini masih terlihat kasar, tapi dengan kemajuan
teknologi tidak menutup kemungkinan akan terlihat lebih halus pada tahun
mendatang,” tambahnya. Sementara Sandra mengaku bahwa foto-foto bugil hasil
rekayasa tersebut merupakan satu bentuk fitnah atas dirinya.
Menurut pendapat saya :
Merekayasa suatu foto dengan
maksud menjatuhkan seseorang yang berkaitan dengan objek foto apalagi sampai
merugikan pihak tersebut adalah suatu kejahatan yang seharusnya ditindaklanjuti
secara serius oleh pemerintah. Tetapi peraturan tentang telematika di Indonesia
masih lemah. Sudah banyak pengaduan yang diberikan terkait dengan
penyalahgunaan foto seseorang yang dengan mudahnya disimpan lalu direkayasa dan
dipublikasi namun tanggapan para penegak hukum masih belum bisa diharapkan. Hal
itu dikarenakan pemerintah dan para penegak hukum masih belum memiliki wawasan
yang luas tentang perkembangan telematika pada saat ini. Perkembangan yang
dimaksud bukan hanya dapat menggunakan alat-alat teknologi yang ada saat ini
namun seharusnya juga mengetahui tentang software dan pogram-program yang ada. Sehingga
ketika seorang pelaku kejahatan belajar tentang perkembangan telematika
terbaru, pemerintah dan para penegak hukum juga harus belajar perkembangan
telamtika terbaru agar dapat memberikan bukti-bukti yang kuat berdasarkan
kecanggihan teknologi yang dimilikinya.
2. Australia Menyadap Handphone Pejabat Indonesia
JAKARTA, KOMPAS.com —
Pemerintah Australia diduga melakukan penyadapan terhadap 10 telepon seluler
pejabat Indonesia pada tahun 2009. Dua di antaranya, yaitu Wakil Presiden
Boediono dan Dino Pati Djalal (kala itu Juru Bicara Presiden Urusan Luar
Negeri), menggunakan ponsel pintar BlackBerry yang dikenal mengutamakan
keamanan. Informasi ini terungkap dari dokumen rahasia yang dibocorkan Edward
Snowden, mantan karyawan Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat.
Dalam dokumen tercatat, ponsel yang
dipakai Boediono dan Dino Pati Djalal adalah BlackBerry seri Bold 9000. PR
Manager BlackBerry Indonesia Yolanda Nainggolan enggan berkomentar soal isu
penyadapan ponsel BlackBerry yang digunakan dua pejabat tersebut. “Kami tidak
bisa berkomentar banyak karena kami juga belum mengetahui bentuk penyadapannya
seperti apa,” terang Yolanda saat ditemui di Jakarta, Selasa (19/11/2013).
Selama ini keamanan menjadi fokus
BlackBerry dalam menyediakan layanan untuk segmen korporasi dan pemerintah.
Namun, hal itu tidak menjamin ponsel BlackBerry terbebas dari penyadapan.
Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Gatot S
Dewa Broto mengatakan, ponsel BlackBerry yang dikenal aman sekalipun bisa
disadap. "Pada dasarnya ponsel apa saja bisa disadap, dan caranya
terbilang mudah," katanya.
Selain BlackBerry, ponsel merek lain juga
digunakan oleh pejabat Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan
istrinya, Kristiani Herawati atau lebih dikenal dengan Ani Yudhoyono, tercatat
memakai Nokia E90. Pejabat lain yang disadap adalah Jusuf Kalla yang
menggunakan Samsung SHG-Z370, Andi Mallarangeng memakai Nokia E71, Widodo Adi
Sucipto dengan Nokia E66, serta Hatta Rajasa, Sofyan Djalil, dan Sri Mulyani
Indrawati memakai Nokia E90.
Menurut pendapat saya :
Perkembangan telematika yang semakin canggih
tidak menjamin bahwa keamanannya sudah baik. Dengan adanya kasus seperti ini
membuktikan bahwa keamanan telekomunikasi di Indonesia masih sangat lemah dan
harus diperbaiki lagi. Jika pemerintah tidak meningkatkan keamanan
telekomunikasi di Indonesia maka hal tersebut bisa membahayakan bangsa
Indonesia sendiri karena rahasia yang ada di Indonesia bisa didapatkan oleh
negara lain. Kurangnya keamanan telekomunikasi juga meresahkan masyarakat. Bagaimana
tidak, jika pejabat Indonesia saja bisa disadap apalagi jika hanya seorang
masyarakat biasa. Tidak menutup kemungkinan bahwa komunikasi yang biasa kita
lakukan sehari-hari akan disadap oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
3. Dampak Gadget pada Anak Usia Dini
Masa kecil adalah masa
yang indah untuk mengenal dunia, untuk belajar berinteraksi secara langsung dan
mengalami berbagai pertumbuhan. Berbagai interaksi face to face sangat
dibutuhkan dalam perkembangan anak, sehingga nantinya, ia tidak mengalami
kesulitan pada saat bersosialisasi dengan teman atau orang lain. Jika dari
kecil manusia sudah terlalu banyak bergantung dengan gadget dan minim interaksi
langsung, maka anak tersebut nantinya akan merasakan berbagai kendala dalam
berinteraksi sosial.
Beberapa tahun yang lalu gadget hanya banyak di pakai oleh para
pembisnis dari kalangan menengah ke atas. Namun pada zaman sekarang, gadget
tidak hanya dipakai oleh para pembisnis saja, banyak para remaja bahkan
anak-anak pun telah banyak menggunakan gadget. Gadget memiliki fitur menarik
yang ditawarkan dan seringkali membuat anak-anak cepat akrab dengannya.
Anak-anak pun sekarang makin banyak menggunakan gadget hanya untuk memainkan
game.
Tak perlu cemas bila anak suka bermain
gadget. Yang penting, terapkan aturan sejak dini dan perlakukan gadget sebagai
alternatif sarana pembelajaran yang berbeda. Dan peran orang tua sangat penting
dalam perkembangan teknologi yang sangat maju di zaman sekarang ini. Karena
fasilitas yang disediakan oleh gadget tidak hanya menimbulkan dampak positif
tetapi juga dapat menimbulkan dampak negatif juga.
Berikut merupakan dampak negatif yang
biasa langsung terjadi pada anak akibat pengaruh gadget:
Kemajuan teknologi berpotensi membuat anak
cepat puas dengan pengetahuan yang diperolehnya sehingga menganggap bahwa apa
yang dibacanya di internet adalah pengetahuan yang terlengkap dan final.
· Kemajuan teknologi membawa banyak kemudahan, maka generasi mendatang berpotensi untuk menjadi generasi yang tidak tahan dengan kesulitan.
· Kemajuan teknologi juga berpotensi mendorong anak untuk menjalin relasi secara dangkal.
· Mengalami penurunan konsentrasi.
· Mempengaruhi kemampuan menganalisa permasalahan.
· Malas menulis dan membaca.
· Penurunan dalam kemampuan bersosialisasi Ekternal dan internal.
· Kemajuan teknologi membawa banyak kemudahan, maka generasi mendatang berpotensi untuk menjadi generasi yang tidak tahan dengan kesulitan.
· Kemajuan teknologi juga berpotensi mendorong anak untuk menjalin relasi secara dangkal.
· Mengalami penurunan konsentrasi.
· Mempengaruhi kemampuan menganalisa permasalahan.
· Malas menulis dan membaca.
· Penurunan dalam kemampuan bersosialisasi Ekternal dan internal.
Menurut pendapat saya :
Pengaruh perkembangan
teknologi memiliki banyak dampak terutama terhadap anak-anak yang dari usia
dini sudah diperkanalkan pada gadget. Dampak positif yang diberikan ialah
banyaknya aplikasi-aplikasi yang dapat mendukung pembelajaran anak. Untuk
anak-anak yang masih balita dan belum bersekolah, mereka dapat melatih
pengenalan huruf dan warna dari aplikasi-aplikasi yang banyak disediakan di
pasar gadget seperti Google Play dan Appstore. Untuk anak-anak yang telah
bersekolah, mereka juga dapat mendownload aplikasi yang dapat mendukung belajar
mereka di sekolah dan sebagai media hiburan dikala anak tersebut merasa bosan. Selain
sebagai media belajar dan hiburan, sekarang ini anak diberikan gadget sebagai
media komunikasi, baik untuk berkomunikasi dengan orang tuanya maupun dengan
teman-temannya.
Tetapi pemberian gadget
tersebut juga bisa memiliki dampak negatif apabila salah dalam penggunaannya. Penggunaan
gadget yang terlalu sering untuk anak-anak bisa membuat mereka jadi enggan
bersosialisasi dengan orang lain. Mereka cenderung lebih asik dengan gadget
dari pada bersosialisasi dan bermain dengan anak seusianya. Mereka juga lebih
cepat merasa puas dan tidak mau berusaha untuk mendapatkan sesuatu dikarenakan
kemudahan-kemudahan yang diberikan pada permainan di gadgetnya.
Menggunakan gadget yang
terlalu lama juga merupakan hal yang tidak baik karena selain bisa merusak mata
dengan melihat layar yang terlalu lama, jam belajar anakpun akan terganggu.
Anak juga akan sulit berkonsetrasi karena pikiran mereka telah terbagi-bagi
antara belajar dan meneruskan permainannya.
Maka dari itu, sebaiknya
para orang tua memberikan batas terhadap pemberian gadet kepada anaknya. Ada baiknya
anak hanya diberi penggunaan gadget pada jam-jam tertentu saja sehingga tidak
akan mengganggu waktu belajar dan bermain anak sekaligus bersosialisasi dengan
teman-temannya. Pastikan juga setiap kali anak menggunakan gadget agar selalu
diawasi oleh orang tua.
Sumber :
http://fachryfadilla.blogspot.co.id/2015/01/pendapat-mengenai-contoh-kasus.html